Friday, June 10, 2011

Empat Mata Angin

Dalam ketenangan pagi ini, diantara semua kegelisahan yang masih menggayut, tiba-tiba aku merasa diriku terhanyut dalam arus kenangan. Lembar demi lembar tersibak, mengumbar semua keindahan yang pernah dan masih ada. Keindahan. Ya, aku lupa kata itu. Aku lupa bahwa label itu lah yang membawaku tersesat dalam perjalanan berharga yang membuat hidupku lebih bermakna. Jadi aku memutuskan untuk duduk diam dan menjelmakan apa yang abstrak dalam tulisan. Supaya aku ingat, bahwa aku makhluk paling beruntung.

Selatan. Bukankah jarum kompas selalu menunjuk ke Utara? Tapi kompasku berkata lain. Dengan kuat semua keberadaanku teralihkan hanya kepadamu. Tak pernah aku mau ke Selatan. Cerita nenek buyutku menanamkan adanya kengerian dan gelora padamu. Tak mau aku timbul tenggelam dan akhirnya lenyap. Tapi semua itu bohong. Kamu begitu tenang, begitu meneduhkan. Segala yang pasti ada padamu, dan kamu menarikku semakin kuat. Ya, dan semakin dekat aku padamu, semakin terpesona aku pada keindahanmu. Warna-warnamu hangat dan sempurna.

Tapi berlama-lama dalam ketenanganmu membuatku gelisah. Ternyata aku ingin riak. Aku ingin gelombang yang bisa menarikku ke atas dan menghempaskanku ke bawah. Tapi kamu tetap tenang, karena itulah kekuatanmu. Maka jarum kompasku bergerak semakin cepat menarikku ke arah lain.

Timur. Kamulah misteri yang memikat begitu banyak hati bergerak ke arahmu. Daya tarikmu berlipat ganda karena sinar mentari dan bau harum rempah-rempah yang kau janjikan. Jiwa petualangku terusik dan tanpa ragu aku menghanyutkan diri padamu. Dengan peta dan peralatan lengkap aku siap menempuh perjalanan penuh kejutan. Dan benarlah, riak dan gelombang yang aku inginkan kutemukan padamu. Aku semakin bersemangat dan larut dalam petualangan. Warna-warnamu berani dan menantang.

Tapi riak dan gelombang membuat aku terombang-ambing. Petaku basah, dan aku tak lagi bisa menebak kemana akan melangkah. Maka kuteguhkan hati mencari jawab, dan jarum kompasku pun bergerak perlahan menggiringku ke arah berikutnya.

Utara. Sedari awal kamu selalu menjadi kiblat. Kekuatan, ilmu, pengetahuan, seni, budaya… Pesonamu nyata, karismamu begitu jelas. Semua memandang ke arahmu dalam kekaguman. Semua ingin dekat padamu dan berada dalam jangkauan hangat bayangmu. Akupun tak luput. Seperti magnet yang kuat, kamu menarikku seketika dan menjebakku dalam putaran medan listrikmu.  Menari-nari di dalamnya membuat kekagumanku semakin bertambah setiap saat. Kamu begitu menarik, warna-warnamu bercampur baur berganti-ganti.

Tapi kamu juga adalah teka-teki. Memecahkan petunjukmu mengasyikkan sekaligus melelahkan. Dan sampailah aku pada titik nadir, yang membuatku meneguhkan hati menghentikan semua permainan, memandangmu hanya dari kejauhan…

Dan jarum kompasku bergeser ke arah yang lain.

Barat. Tak perlu diragukan, ke sanalah aku ingin melangkah. Kesederhanaan dan ketulusan, itulah keunggulanmu. Warna-warnamu lengkap, harmonis dan seimbang.  Dan menggoda. Tapi.. Bukan saatku untuk beranjak, kulawan tarikan jarum kompas, dan kembali ke titik awal.

Dalam kedamaian kini, aku bersyukur untuk semua perjalanan yang telah lewat, yang memberikan harta berharga tiada terkira. Dan aku merasakan sayap-sayap di pundakku mulai mengembang. Aku siap untuk terbang. Ke Barat Daya mungkin? Atau Barat Laut, atau Tenggara, atau Timur Laut? Aku mau menempuh semua arah dan mengalami semua!

Dan kalau angin menarikku kembali ke Selatan, atau ke Timur, atau ke Utara, bahkan ke Barat.. Aku akan menyambut hangat setiap lengan yang terentang! 

-100611-

1 comment:

  1. well said fina :)
    hati2 deket magnet, ntar kompasnya rusak
    (magnet bukan metafora, cuma omong kosong :p)

    ReplyDelete

I don't hate comments, so don't hesitate to leave some ^^