Kalimat ini berasal dari bahasa Latin dan artinya kurang lebih “Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan patah hati.” Sewaktu masih rajin nulis di note'nya Facebook, aku pernah nulis dengan judul ini, meskipun waktu itu konteks patah hatinya lebih luas, ga terbatas karena cinta. Tapi kali ini aku mau nulis yang khusus berhubungan dengan kisah cinta. Gara-garanya, saat ini ada salah satu teman yang sedang patah hati berat karena putus dengan pacar dan sampai sekarang masih belum bisa pulih.
Yah, hati yang patah memang tak bisa dipulihkan dengan obat tidur, minuman keras, atau hiburan duniawi. Temanku tadi buktinya. Dia ga bisa tidur, makan jadi sedikit sekali, nangis terus.. Bahkan ketika aku ajak keluar untuk jalan-jalan, tiba-tiba matanya bisa berkaca-kaca dan akhirnya nangis lagi. Yang bikin tambah berat, dia bekerja hanya 4 hari dalam seminggu, jadi 3 hari sisanya ya di rumah aja. Dan dengan ga ngapa-ngapain itu, akhirnya pikirannya ga bisa teralihkan, balik-balik mikirin mantannya, jadi tambah depresi deh. Kalau pengalaman patah hati teman-teman bagaimana? Apa seperti itu? Atau justru lebih parah?
Yang bikin aku khawatir, keadaan ini sudah berlangsung dua bulan lebih. Biasanya kalau aku sedang stres, aku bakal cari-cari kegiatan supaya fokusku berubah. Dan bersibuk-sibuk ria begitu biasanya manjur ngilangin, atau seenggaknya, ngurangin stres. Makanya aku berusaha menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan, bikin blog salah satunya ;p Tapi tampaknya cara ini kurang berhasil buat dia..
Mmm, aku jadi pusing deh. Karena dia ga punya keluarga di Tokyo sini, dan teman-temannya kebanyakan juga sudah menikah dan sibuk dengan dunia masing-masing, jadi biasanya dia nyari aku. Jadi ngrasa bersalah juga agak nyuekin dia. Yah, mau bagaimana lagi, aku juga masih harus kuliah dan ngerjain tugas. Pembelaan diri nih, hehe..
Menurutku yang paling penting sebenarnya adalah dia harus bisa coming to term. Maksudnya, dia harus bisa menerima realita dengan cara yang positif. Apalagi alasannya putus dengan si mantan logis banget. Ga usah aku ceritakan di sini, tapi cowo seperti itu memang sebaiknya dijauhi, ga bagus buat kesehatan jiwa. Dan sebelum putus ini dia juga sudah mempertimbangkan, dia punya beberapa prioritas yang sepertinya ga bisa dikompromikan sama si mantan. Anggap saja ini memang jalan yang terbaik untuk dia punya kehidupan yang lebih baik, dan siapa tahu bertemu dengan orang yang lebih baik juga, kan? *Auw, auw, gampang banget ngomongnya*
Yang sering dilupakan juga adalah berdamai dengan keputusan yang sudah kita buat. Kita mesti sadar bahwa keputusan yang kita ambil pasti punya implikasi dan bahkan menciptakan batasan-batasan tertentu dalam hidup kita. Misalnya ketika dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan si mantan, dia harus sadar bahwa keputusan itu membawa akibat, dia ga bisa punya relasi yang sama seperti dulu ketika masih pacaran. Yang biasanya bisa nelpon kapan aja sekarang jadi ga bisa. Yang biasanya bisa sayang-sayangan (apapun artinya ;P) sekarang jadi ga bisa lagi. Aku tahu ini pasti berat dan butuh waktu untuk bisa terbiasa. Bagaimanapun kebersamaan selama beberapa waktu memang ga begitu mudah untuk dilupakan, kan?
Selain itu kita juga mesti bisa coming to term dengan diri kita sendiri. Kita mesti bisa menerima rasa frustasi yang kita alami, harapan-harapan kita yang ga terpenuhi, ketakutan-ketakutan kita, perasaan bersalah, kegagalan-kegagalan, rasa kesepian, dan kesempatan-kesempatan yang ga berhasil kita dapatkan.. Berkaitan dengan hal ini, aku jadi ingat buku "Tuesdays with Morrie" karya Mitch Albom. Buat yang belum baca, buku ini adalah kisah nyata tentang seorang profesor bernama Morrie yang menderita satu penyakit langka yang secara perlahan akan membuat tubuhnya ga berfungsi sampai akhirnya meninggal. Kenyataan yang berat, apalagi profesor itu tahu bahwa dia pasti akan meninggal dengan cara yang tidak menyenangkan karena penyakit itu. Nah, buku ini menceritakan bagaimana sang profesor menjalani kehidupannya menjelang hari kematiannya. Ada salah satu bagian tentang emosi yang menurutku bagus banget, begini kutipan-kutipannya:
".. Apabila kita menahan emosi-emosi itu -apabila kita tidak membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta."
"Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi-emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh.."
".. begitu ia terbiasa dengan emosi-emosi tersebut, mampu merasakan sifat-sifatnya, mengenali gejala-gejalanya, menghayati akibat-akibatnya-maka ia sanggup berkata, 'Baik. Jadi begini rasanya ketakutan. Sekarang aku ingin melepaskan rasa takut ini.' "
Satu lagi..
"Pendekatan yang diambil oleh Morrie betul-betul berlawanan. Kita buka kerannya. Basuhlah diri kita dengan emosi. Kita tak akan terluka karenanya. Kita malahan akan terbantu. Apabila rasa takut itu kita biarkan, apabila kita menerimanya seperti ketika kita mengenakan sebuah kemeja yang sudah terbiasa kita pakai, kita akan berkata kepada diri sendiri, "Sudahlah, ini hanya rasa takut. Aku tidak akan membiarkannya mengendalikan aku. Aku memandangnya seperti apa adanya."
Yang terakhir, kita juga mesti bisa coming to term dengan Tuhan. Ada banyak hal tentang Tuhan dan caraNya memimpin hidup kita yang ga bisa kita mengerti. Kita seringkali meragukan, bahkan curiga sama Tuhan. Tapi kita tahu bahwa Dia baik, dan kita mesti belajar percaya dan berserah dan berharap sama Tuhan.
Well, I know, I know, it's easier said than done.. Tapi inilah hidup, dan selama kita hidup pasti akan selalu ada masalah. Semoga temanku itu akhirnya bisa menerima patah hatinya sebagaimana adanya dan mengatasinya.. *Semoga aku juga bisa sabar menemani dan membantu dia yaaa*

kalo udah masalah hati emang susah ya... teori2 langsung patah semua. hehe.
ReplyDeleteyah pada masa2 kayak gini emang peran teman dan keluarga itu besar. sering2 diajakin ngobrol yang asik2 yang lucu2, diajakin pergi2, jalan2... biar pelan2 mulai bisa ngelupain patah hatinya...
Yup, bener banget Man.. Masalah hati mang ruwet dah >.<
ReplyDeleteSaya juga pernah patah hati. Berat badan turun sampe 5kg.
ReplyDeleteOrang patah hati itu memang butuh perhatian lebih, tapi bukan berarti setiap hari dia musti sedih melulu. Lama2 juga orang yg nglayaninnya cape.
Saran saya sih, kamu jujur aja sama temen kamu. Bilang kalau kamu maklum sama keadaan dia, tapi dia ngga bs selamanya jatuh, dia harus bangkit. Trs blg juga kalau kamu selalu mendukung dia, hanya saja kamu lelah kalau terus2n mendukung tanpa ada usaha dari dia juga :D
kirain arti judulnya nama orang yang nulis habis ;D salam kenal
ReplyDelete@ Merry: Iya bener, jadi capek euy ngeladenin. Tp untungnya sekarang udah mendingan kok ;)
ReplyDelete@ WKF: Salam kenal juga :) Hehe
aku pernah punya temen yang kayak gitu, walau kasusnya gak sama... lama2 aku cuekin karena berasa udah mengganggu banget. akhirnya dia ngerasa juga, aku jadi gak enak banget, untung kita dapat tetap berteman baik... kalo aku bisa mengulang waktu (halah) mungkin memang waktu itu aku ngomong terus terang ke temanku^^. I hope u will do the same thing to her^^
ReplyDeletekyknya kutipan ttg memeluk ketakukan ini bs jd solusi atas problemku selama ini hi..hi. Selalu khawatir dan cemas. :)
ReplyDeleteWah, seneng deh Aji, kalo bisa membantu ^^ Btw kenapa tuh kok selalu khawatir dan cemas? Jadi penasaran, hehe
ReplyDeleteSeandainya saya patah hati, mungkin saya lebih memilih menyendiri....
ReplyDeleteEhm posting yg menarik :D darling, kita kontak2 via email or ym (kalo ada) di ermadk@yahoo.com ya... tq
ReplyDeleteSegala sesusatu yang dibawa terlalu mendalam memang tidak baik buat diri. Teman Herfina harus menolong dirinya sendiri, orang lain hanya sekedar omdo, eksekusi tetap pada pribadi masing-masing.
ReplyDeleteSalam,
ALRIS
http://PakOsu.wordpress.com/