Kamu pernah bertanya, “Dimana gerangan matahari?”
dan aku berlari sekuat tenaga ke Timur..
Hingga kini, aku tak tahu apakah aku sesungguhnya pernah terbit menghangatkanmu..
Tapi itu tak lagi menjadi penting, bukan?
dan aku berlari sekuat tenaga ke Timur..
Hingga kini, aku tak tahu apakah aku sesungguhnya pernah terbit menghangatkanmu..
Tapi itu tak lagi menjadi penting, bukan?
Kamu pernah bertanya,”Apa Tuhan mendengarkan doa umatNya?”
dan tak lelah aku menengadahkan tangan..
Kamu yang bersinar terang sekarang, bukti bahwa Tuhan mendengarkan, bukan?
Meski belum tentu hanya aku yang meminta
dan tak lelah aku menengadahkan tangan..
Kamu yang bersinar terang sekarang, bukti bahwa Tuhan mendengarkan, bukan?
Meski belum tentu hanya aku yang meminta
Kamu pernah bertanya, “Apa artinya bersabar?”
dan aku melepaskanmu..
Hingga kini, apa esensi bersabar (akan kamu), aku masih tak mampu menelusurinya..
Tapi itu tak lagi menjadi gundahku
dan aku melepaskanmu..
Hingga kini, apa esensi bersabar (akan kamu), aku masih tak mampu menelusurinya..
Tapi itu tak lagi menjadi gundahku
Aku tetap ingin menjadi matahari,
meski bukan kamu yang aku hangatkan
Aku tetap ingin berdoa,
meski bukan kamu yang aku pinta
Aku tetap ingin bersabar,
meski bukan hatimu yang aku tunggu..
meski bukan kamu yang aku hangatkan
Aku tetap ingin berdoa,
meski bukan kamu yang aku pinta
Aku tetap ingin bersabar,
meski bukan hatimu yang aku tunggu..
-Didiet Prihastuti
No comments:
Post a Comment
I don't hate comments, so don't hesitate to leave some ^^