Wednesday, April 7, 2010

What Am I Here For?

Itu pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala begitu pesawat yang aku tumpangi mendarat di Narita. Sebelumnya, ketika pesawat yang akan membawa aku ke Singapura akan lepas landas, tiba-tiba aku juga merasa ragu lagi. Benarkah aku yakin bahwa aku memang ingin ke Jepang dan belajar di sana? Apa aku yakin memang bidang ini yang aku inginkan untuk aku geluti seumur hidup? Bagaimana nanti dengan ini itu dan sebagainya? Apalagi saat berbicara terkahir kali dengan kakakku yang mengantar ke bandara, dia masih mempertanyakan lagi pilihanku. Tapi kemudian aku mengingat-ingat lagi bagaimana Tuhan memimpin hidupku hingga saat ini, memberikan beban yang akhirnya membawaku pada pilihanku, dan akhirnya membukakan jalan untuk studi lanjut. Aku juga mengingat lagi janjiku untuk tetap percaya pada pimpinan Tuhan atas hidup dan masa depanku.

Namun ketika mendarat di Narita waktu itu, sepertinya segala macam emosi mulai keluar dan pertanyaan tentang "What am I here for?" kembali memenuhi kepala. Kembali goyah, kembali tidak yakin..

Sebagai seseorang yang menjalani pendidikan di kedokteran, aku memang diarahkan untuk menjadi seorang klinisi. Tapi selama masa itu aku mulai mengerti arti penting kesehatan masyarakat (public health) yang lebih menekankan pada pencegahan (preventif) dan promosi dibandingkan pengobatan (kuratif). Aku mulai memahami bahwa sumber-sumber yang digunakan untuk usaha-usaha preventif dan promotif akan memiliki dampak yang lebih luas dibanding usaha kuratif. Selain itu ada banyak aspek kesehatan masyarakat yang menurutku memang menarik untuk dipelajari yang dampaknya jauh lebih luas. Karena itulah aku tertarik pada kesehatan masyarakat dan berniat untuk mendalaminya, suatu pilihan yang kemudian banyak dipertanyakan oleh orang-orang di sekelilingku. Tidak bergengsi, tidak menghasilkan uang, tidak berguna..

Ternyata aku tidak sendirian. Di sini aku bertemu dengan seorang dokter dari Nepal yang juga punya pergumulan yang sama. Dan lucunya, kami punya banyak sekali kesamaan. Saling terbuka dan sharing dengan dia ternyata ampuh untuk memperoleh kembali keyakinanku.

Aku bersyukur ada dia, dan aku merasa kami akan jadi teman baik ^^



Me and Rolina ^^

PS: I just found this quote, and I think it really applies to me and Rolina :D
"Friendship is born at that moment when one person says to another: "What! You too? I thought I was the only one."
— C.S. Lewis

2 comments:

  1. HOREEEEE!!!...Fina uda punya temen baru :)

    hehehe ...yg kluar Jakarta aja sering kali mengalami hal yang sama kok Fin ;) Sepertinya ini adalah bagian dari sharing kita waktu itu; perjalanan waktu akan menguji "jawaban doa"

    ReplyDelete

I don't hate comments, so don't hesitate to leave some ^^