Saturday, October 22, 2011

Just a thought

Belum genap seminggu tinggal di Bangladesh dan belum sempat pula menjelajahi sudut-sudutnya,  jadi aku belum bisa menarik kesimpulan tentang Bangladesh. Namun sejauh yang bisa aku amati, seperti umumnya negara berkembang, kontras antara yang berpunya dan yang tak berpunya jelas terlihat. Dan katanya urbanisasi di Dhaka ini gila-gilaan. Per tahun 2011 sekitar 17 juta orang memadati Dhaka yang luasnya sekitar 360 km2. Bandingkan dengan Jakarta yang luasnya dua kali lipat (740.28 km2) dan dihuni sekitar 10 juta orang. Sebegitu besar jumlah penduduk Dhaka, sebagian besar bekerja di sektor informal, dan yah, berpenghasilan sangat minim. Eksesnya, apalagi kalo bukan daerah pemukiman kumuh yang tersebar di seantero kota. Kalau bicara tentang infrastruktur dan fasilitas umum, aku bisa bilang kondisi di Indonesia jauh lebih baik.

Tak perlu berpanjang lebar, cerita di atas sudah bisa memberi gambaran situasi di sini. Lalu, tentang apa yang mengganjal di hati..

Di Dhaka aku tinggal di pemukiman yang katanya the most sophisticated part of the city. Mayoritas penduduknya orang asing dan orang-orang super kaya di Dhaka. Kedutaan besar dari berbagai negara dan berbagai institusi asing juga kebanyakan berlokasi di dareah ini. Karena jaringan sosial ini itu, orang-orang ekspat di sini terkoneksi satu sama lain. Dan karena teman-teman satu rumahku orang Amerika semua, aku terkoneksi juga dengan jaringan sosial mereka.

Lalu tadi malam, aku dan teman-teman serumah diundang ke salah satu party' (rasanya menuliskan party sebagai party dan bukan pesta di sini lebih berasa "sesuatu", jadi aku akan tetap memakai kata party) nya kawan-kawan bule itu. Aku orang yang suka sekali bersosialisasi dan ketemu teman-teman baru. Jadi aku selalu merasa senang diundang ke party-party begini, ato ngumpul-ngumpul dibilangnya kalo di Indonesia (?), meskipun sebagai (sisi sebaliknya diriku yang) anak rumahan super kuper biasanya aku ngabur secepat-cepatnya sebelum tengah malam (supaya "Cinderella spell" nya ga ilang sebelom nyampe rumah ;p) dan selalu merasa lega dan lebih nyaman ketika sudah berada ke rumah. Apalagi kali ini, apartemen si tuan rumah letaknya di lantai paling atas, jadi party tadi malam benar-benar mengesankan. Rooftop, lights, impressive view to Dhaka city, music, drinks, food, very very nice and friendly people.. 


Tapi entah kenapa, aku kok merasa kurang sreg.. Fakta bahwa sebagian besar orang-orang yang kutemui semalam bekerja untuk humantarian efforts, bahwa kami berada di tengah kemiskinan yang begitu nyata, bahwa orang yang menarik rickshaw dan membawa kami pulang-pergi sebegitu jauh dan mengeluarkan tenaga begitu besar tetap mendapat penghasilan kurang dari 1 USD karena jasanya..

Bukan, aku ga bermaksud untuk menghakimi siapapun atau apapun. Aku cuma mau berbagi, ternyata benturan dan tarik-menarik kebudayaan ato apapun namanya ini tetap terjadi (di dalam diriku). Mungkin sebenarnya aku juga ga perlu terlalu sensitif meresponi pengalaman semalam, mungkin juga sebenarnya aku tak perlu menuliskan ini.. Ah..

10 comments:

  1. typical foreign "humanitarian workers"
    *nyinyir*

    -marintje

    ReplyDelete
  2. hmmmm, agak-agak ironis ya... tapi oke lah kalo sekali-kali party.. biar balance! hehe..

    buset, ternyata ada ya kota yg lebih crowded dari jakarta?!! *gak kebayang*

    ReplyDelete
  3. Umm,

    saya gak berani komen soal "kelakuan", hehe...

    Tapi ini catatan menarik, Fina. Apalagi kalo sampe kau dapat sudut pandang si penarik rickshaw :)

    ReplyDelete
  4. Hahaha!! Of course you should write!
    Good to know you are in a nice place!! ^^
    I think I understand your thoughts. It happened to me when I first volunteered in Tohoku. We had this biiig party by the ASEAN president, in the last floor of a big enourmous hotel in Sendai, with ofuro, sauna and all! Really, even though I liked the party itself, part of me felt that was sooo wrong! I mean, we were supposed to be helping homeless people, and we're spending a night partying in Sendai's top hotel?!?

    But well, anyway... Sometimes politics, media, and socializing are needed to make things happen. Even though it feels wrong, maybe there are good intentions, and maybe good fruits being generated - as paradoxal as it might seem. :))

    And Finaaaa, post pictures!!

    ReplyDelete
  5. @ Marintje: nyinyirnya pake sirih ga? ntar gigi lo merah-merah loh.. *apasihganyambung*

    @ Damar: Ying and yang? :D
    Iya Dam, orang dimana-mana, ntar deh aku fotoin

    @ Kak Syam: Hahaha, komen dong Kak :D
    Sudut pandang si penarik rickshaw? ntar dibikin case study lah ya, judulnya "Pendapat penarik rickshaw tentang orang-orang asing di Dhaka"
    *cari-cari buku Bahasa Bengali, belajar dulu*

    @ Bruno:
    1. How come you understand my Indonesian? Well I know you can use g-translate, but it's imperfect, isn't it? And I sometimes use non-formal phrase as well!! Or did you ask Loh? ;p
    2. Oh I didn't know that you also experienced the same feeling when you were volunteering in Sendai! You didn't tell me! And yeah, maybe you are right abt media etc..
    3. Pictures? Coming soon!!!

    ReplyDelete
  6. wah, jadi terharu saya membaca postingan ini ... sometimes life is unfair :)

    ReplyDelete
  7. @ Winnie: Hadehhh,tissuenya habis, Mbak, gimana dong? :)

    ReplyDelete
  8. Finaa, I wanted to understand what you had written! Nothing that Google and a little bit of effort and imagination wouldn't do to help it! :D

    Yeah, I might be right. But I still do not think that was an appropriate thing to do in that situation. Anyways... Shoganai, ne!

    Be safe and shining, girl. As always! ;)

    PS.: I'm looking forward for the pics!

    ReplyDelete
  9. hahaha, ga jadi terharu kalau gitu... ;)
    enjoy aja kehidupan di sana ... kadang hal2 seperti keadaan di sana memang di luar kontrol kita ... jadikan pengalaman saja :)

    ReplyDelete
  10. you know what i think?
    stop sending those foreign they-called-themselves-humanitarian-workers, whom definitely got paid big time, and give all the money to empower local people - not the government please.

    they think they already EXPERIENCE the real bangladesh when they sit on their expensive couches in their comfortable apartment and throwing parties, pleaseeee, bite meeeee

    ah, gw mau bikin kebun organik sendiri gw aje
    hahahahahahhaha

    *masih marintje

    ReplyDelete

I don't hate comments, so don't hesitate to leave some ^^