..adalah slogan yang digemakan Asian Rural Institute (ARI). ARI ato yang dibahasa-Indonesiakan oleh Kak Syam menjadi Sekolah Kampung Asia ini memang unik. Peserta didiknya berasal dari berbagai negara berkembang di Asia, Afrika, Pasifik, dan juga Latin Amerika. Sudah pasti latar belakang bahasa-budaya mereka beraneka ragam, termasuk juga tradisi keagamaan yang mereka anut. Meskipun berlandaskan iman Kristen tapi sekolah yang mengkhususkan diri mendidik para penggerak pembangunan di desa/kampung (rural development), terutama dalam hal bercocok tanam, ini menerima peserta didik dari semua latar belakang keagamaan. Tinggal bersama-sama dengan orang yang klop saja pasti tetap akan ada naik turunnya, apalagi tinggal dengan orang-orang yang (tadinya) tidak dikenal dan berasal dari latar belakang yang mungkin (tadinya) menimbulkan rasa syak dan prasangka. Tapi justru karena itulah, di sana mereka belajar hidup bersama dalam damai sesuai dengan misi yang berusaha dicapai, that we may live together..
Setelah melalui usaha yang cukup berliku (lebay dikit,ah :D), weekend kemarin aku berhasil mengunjungi Sekolah Kampung Asia dan bergabung dengan teman-teman di sana untuk mengikuti Harvest Thanksgiving Celebration (HTC), seperti yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Perayaannya berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu, jadi aku menginap semalam di sana. Selama perayaan ada berbagai stand dari peserta didik yang menjual makanan khas negara asal mereka, stand dari Sekolah Kampung Asia sendiri yang menjual berbagai hasil panen, pameran foto mengenai gempa Tohoku kemarin (yang fotografernya kehilangan ibu tercinta dalam bencana tersebut), dan tentu saja panggung utama yang diramaikan berbagai pertunjukan dari peserta didik dan staf Sekolah Kampung Asia beserta keluarga. Pengunjung kebanyakan adalah penduduk di Nasushiobara, tempat sekolah ini berada, tapi banyak juga yang adalah pendukung Sekolah Kampung Asia yang jauh-jauh datang dari berbagai penjuru Jepang.
Dan misi bertemu plus ngobrol-ngobrol dengan Kak Syam tentu saja berhasil dong! :) Seperti yang aku bayangkan, Kak Syam sangat ramah, terbuka, dan lucu. Begitu bertemu Kak Syam langsung mengajak ngobrol macam-macam, dan dari obrolan itu semakin kuat aku merasa bahwa Kak Syam sangat mencintai pekerjaannya sebagai petani. Dan bukan sembarang petani, Kak Syam juga petani yang cerdas dan berdedikasi. Dia tahu apa yang dia kerjakan, dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Pengetahuannya luas, dan tidak terbatas soal bertani saja. Setelah berlama-lama mengobrol, ketahuan lah bahwa Kak Syam ini juga seorang artis. Kak Syam berpuisi, dan bahkan menggubah puisi-puisinya menjadi lagu. Salah satu puisinya yang sangat menyentuh berjudul "Perempuan Menangis di Bulan" yang ditulis Kak Syam bersama (alm) istri dan yang musikalisasinya sempat kami nyanyikan untuk menghibur pengunjung HTC.
Perempuan Menangis di Bulan
BuRuLi dan SyamAR
BuRuLi dan SyamAR
Seorang perempuan muda menangis di bulan
Air matanya jatuh bagai bulir mutiara salju
Menghujam tanah sebagai benih
Tumbuh ia
hijau menghidupi
Air matanya jatuh bagai bulir mutiara salju
Menghujam tanah sebagai benih
Tumbuh ia
hijau menghidupi
Demikianlah kisah di benak petani muram
Saat ladangnya kering
Sebagai harapan dan doa oh doa
Di celah mimpi-mimpi merana
Saat ladangnya kering
Sebagai harapan dan doa oh doa
Di celah mimpi-mimpi merana
Menari di bulan
Menyanyikan hujan
Menarikan hujan
Selimuti bulan
Menyanyikan hujan
Menarikan hujan
Selimuti bulan
Selama di sana aku juga sempat ikut memanen egoma (荏胡麻), salah satu varian sesame (wijen) yang minyaknya sangat baik untuk kesehatan. Seru juga bangun pagi-pagi, pergi ke ladang, memetik egoma, dan pulang kelaparan hehe..
Yah, aku bersyukur bisa berkunjung ke Sekolah Kampung Asia, dan semoga aku bisa kembali ke sana kapan-kapan. Berada dan tinggal bersama teman-teman di sana sungguh menjadi pengalaman yang mencerahkan. Tanoshikata desu!
Dan akhirnya, ini foto-foto yang berhasil aku jepret kemarin (memory card-ku tak terbawa, jadi cuma bisa menjepret dengan kamera hp yang hasilnya sungguh tak memuaskan :( )..
Logo HTC tahun ini
Yang membuat logo ini peserta dari Indonesia loh :)
Kak Syam :)
Jadwal sehari-hari di ARI
Egoma yang dikeringkan untuk kemudian diekstrak
salam kenal :)
ReplyDeleteseru yaa pengalamannya,bakalan sering mampir nih..baca cerita2nya :)
Hi Devi, salam kenal juga n makasih ya uda mampir. Silakan berkunjung kapan saja :)
ReplyDeleteWah, programnya ARI nampaknya bagus dan seru!! Ada sosialisasinya nggak sih di Indonesia? Sepertinya banyak orang kita yang eligible jadi participant.
ReplyDeleteSaya juga pengen, tapi enggak mungkin.. Hmmm, jadi volunteer aja kali ya? *ngelamun jalan2 ke Jepang*
Hi Damar (namanya Damar, kan ya? ;p) makasih udah mampir. ARI emang keren, sok atuh, ayo kita jadi volunteer bareng-bareng :D
ReplyDeleteKayanya di Indo sosialisasinya masih terbatas banget deh. Btw kalo tertarik yang beginian di Indo juga ada Dam, coba mampir ke sini deh http://alamsehatlestari.org/
Saya sudah cek ASRI. Menarik juga! Tapi disana ada ketentuan spt ini: "Volunteers who smoke cigarettes cannot be accommodated, as we are actively working on an anti-smoking campaign."
ReplyDelete*Alesan, padahal pengennya jalan2 ke Jepang :D Hayu ah jadi volunteer ARI!!*
Wah asyik.. bisa nyobain makanan khas dari berbagai negara ditambah ikut kegiatan back to nature :)
ReplyDelete@ Damar: Hahaha, okelah, ARI ato ASRI mah hayuuuk!!
ReplyDelete@ Winnie: Betul, betul :)
Ayo kalian berdua main2lah ke Jepang, gratis akomodasi di Tokyo deh :)
makasih udah mau bikin keributan bersama di HTC, Fina! >:D<
ReplyDeleteHuaaaaaa, gratis akomodasi di Tokyo????!! *langsung cari tiket murah Stockholm-Tokyo*
ReplyDelete