Well, kalau aku lebih suka dengan sebutan tea-time karena terdengar lebih informal dan menyenangkan :) Beberapa waktu lalu aku dan seorang temanku yang berasal dari Nepal berkesempatan dijamu minum teh oleh teman seasrama kami yang berasal dari Taiwan. Karena aku penggemar teh (bukan penikmat, karena ga ngerti bagaimana cara menikmati teh dengan betul), ketika tawaran itu datang langung saja aku iyakan. Teh yang dipakai adalah teh oolong asli Taiwan, dan temanku itu benar-benar menyajikan tehnya dengan peralatan minum teh yang juga dibawanya khusus dari Taiwan. Ini dia peralatan minum tehnya..

Dan ini kemasan tehnya..

Cara menyajikannya, pertama-tama ambil sedikit daun teh (yg karena dikeringkan jadi menciut, dan setelah diseduh kembali melebar), masukkan ke dalam cawan yang bertutup, kemudian tambahkan air panas..

Setelah itu air yang sudah dituang tadi dibuang, katanya sih itu untuk membilas daun tehnya. Membuang airnya pun gak perlu capek-capek ke dapur lagi, tinggal tuang ke dalam kotak alas peralatan minum teh (yang ternyata gunanya memang untuk menampung air yang akan dibuang atau terbuang). Baru setelah itu air dituangkan lagi ke dalam cawan, ditutup, dan ditunggu beberapa saat. Sesudahnya, air seduhan teh dipindahkan ke dalam cawan satu lagi yang berfungsi untuk menuangkan teh, baru kemudian dari cawan tersebut air seduhan teh dipindahkan ke cawan kecil untuk diminum.

Rasanya? Hmm, enak.. Tapi terus terang karena aku sudah terbiasa dengan teh oolong Jawa yg nasgithel (panas, legi, kenthel), jadi bagiku teh yang paling enak ya tetap teh itu :) Wah, jadi kangen teh bikinan mamaku di rumah nih..
Selain mencoba teh oolong Taiwan, siang itu kami juga mencoba 2 jenis teh yang lain. Yang satu teh karamel bikinan Lipton yang kata kawan Taiwanku rasanya aneh, dan satu lagi teh merk Laager dari Afrika Selatan hasil jarahanku di bazaar TIEC. Teh karamelnya menurutku enak-enak aja. Kami baru tahu kemudian kalau ternyata teh ini akan lebih enak lagi kalau dicampur susu (aku sudah coba juga dan memang enak :)). Teh Afrikanya yang menurutku agak aneh karena aromanya mengingatkan aku pada bau daun sirih.


Hari itu benar-benar puas minum teh, sampai-sampai perut kembung karena kebanyakn minum, hehe..
Btw, ngomong-ngomong tentang high tea dan afternoon tea, ternyata keduanya merujuk pada dua jenis acara menikmati teh yang berbeda meskipun kedua istilah itu seringkali dipakai bergantian. Menurut sejarahnya, afternoon tea disajikan di siang hari menjelang sore bersama kue-kue untuk mengganjal perut karena makan malam baru akan dihidangkan sekitar jam 9 malam. Sedangkan high tea merujuk pada teh yang disajikan bersama makan malam. Kalau buat aku sih, ngteh mah bisa kapan aja, ga mengenal waktu, hehe..
in terms of literature: of special merit! like your way of writing^^
ReplyDeleteMakasih Pak Joko, sudah mampir dan memberikan komentar yang menyenangkan (untuk dibaca oleh saya), hehe.. Mampir-mampir lagi ya ^^
ReplyDeletenyicip dunk Fin...
ReplyDeletehehehehe...
Boleh2 ^^ Di sini harga teh mahal-mahal Pik, jadi sekarang kl beli gw skalian beli yg bermerk deh, twinning, gt2 deh, gaya yak, hihihi
ReplyDeleteTernyata acara minum teh tidak sesederhana kayak di tempat kita ya..ngga pake aturan apa-apa ..langsung minum aja..he..3x..
ReplyDeleteSalam kenal dan sukses selalu.
Iya, bener banget ;p Salam kenal juga..
ReplyDeletewah wah wah....saya jadi pengen minum teh dari barbagai negara....pasti rasanya asik...
ReplyDeletesalam, ^_^
Salam kenal Herfina :D
ReplyDeletetulisannya menarik, I love tea, tapi bingung ngebedain jenis-jenis teh. Bagi saya teh itu minuman enak, gampang bikinnya, dan bikin fresh. Jadi anytime anywhere, always tea. Any kind of tea.
Saya link ya ;)
@Didien: Salam juga ^^ Silakan dicoba, nanti kalo udah kasih tahu saya ya pengalaman minum tehnya, hehe
ReplyDelete@Rossa: Salam kenal juga, dan salam teh deh kalo begitu, hehe..
Wah, saya jadi teringat komik Prince of Tea...pas baca ngiler juga pengen nyoba teh dari berbagai belahan dunia....
ReplyDeletetapi kayanya teteup teh tradisional ala kampung halaman sendiri yg paling nikmat kayanya.... :D
Bener banget, teh nasgithel di tempat mbah saya tetep paling top dah :)
ReplyDeleteTulisan yang menarik. Di Kedai teh Laresolo, untuk teh China atau teh-teh Premium disajikan dengan Gaiwan seperti punya kamu, tetapi gaiwannya terbuat dari kaca. Biasa cari yang lebih murah :-)
ReplyDeleteUntuk teh lain, kami sajikan dalam teapot Teekanne. Kami juga menyediakan teh Indoneisa kualitas premium, seperti white tea. Bahkan Oolong dari bengkulu tidak kalah dengan Oolong dari Taiwan, dengan harga yang masih masuk akal.
Pak Bambang, saya ga sabar pengen pulang dan mampir ke kedai Bapak nih :)
ReplyDeleteHerfina emang tinggal dimana sekarang? Ditulisan disinggung tentang oolong Jawa yang Nasgithel, mungkin yang dimaksud teh hijau wange melati ya. Jawa Oolong adalah sebuah merk teh hasil kebun di daerah Bogor. Belum lama ini saya juga dapat Oolong dari Bayah, wah, ternyata di Indonesia banyak produksi Oolong juga.
ReplyDelete